Kamis, 09 Agustus 2012

Do'a dari Sebuah Ta'jil

Pada sore itu selepas acara Pesantren Ramadhan hari pertama, akan diadakan pembagian ta'jil di pasar jum'at.

Pasar jum'at adalah pusat kota Purwakarta, atau begitulah menurutku...mungkin akan lebih tepat di sebut sebagai pusatnya perbelanjaan kota Purwakarta, karena kita akan dapat melihat berbagai macam toko-toko yang menjual berbagai macam barang di sana.

Saya berfikir, wajar jika tempat ini dijadikan sasaran tempat pembagian ta'jil, karena disini banyak orang dari kalangan manapun yang baik itu sekedar berjalan-jalan ataupun juga memang sedang berbelanja.

mulai dari pedagang, pembeli, peminta-minta, pengemudi, tukang becak, tukang parkir, satpol PP dan masih banyak lagi yang lainnya.

saya datang terlambat, karena saya membeli bensin dulu, mengecek tempat teman saya mau buka bareng, dan mencari dimana ta'jil itu diberikan. maklum, saat itu saya tidak membawa alat komunikasi yang saya punya, alias HandPhone.

setelah saya akhirnya tidak menemukan tempat teman-teman saya mau buka bareng, saya pun akhirnya memutuskan akan langsung pulang, tapi di setelah tiba di pertengahan, saya melihat teman saya bersama suaminya.

"dimana teh?""itu di depan." jawab beliau.

saya pun memelankan kendaraan saya sampai saya melihat ada seorang umahat dan seorang teteh berjilbab lebar yang saya kenal.

teteh itu kemudian meminta saya untuk langsung saja memarkirkan kendaraan.

saya lalu memarkirkan kendaraan di sisi jalan, masuk kedalam pelataran trotoar yang lebar. (sebaiknya jangan di tiru ya... soalnya trotoar sebaiknya hanya untuk pejalan kaki)

tidak jauh dari tempat kami berdiri, terdapat beberapa satpol PP yang sedang beristirahat.

akhirnya kami pun membagikan ta'jil yang kami punya, sasarannya adalah para pejalan kaki, sopir dan penumpang angkutan kota dan lain-lain.

sempat terpikir dalam hati, apakah ini efektif?

kenyataannya, saya merasa hal ini tidak begitu efektif.

ada beberapa orang yang menurut saya memang pantas untuk di beri, seperti pedagang lapak yang menunggu dagangannya di trotoar, atau pengemudi becak, atau malah peminta-minta.

tapi tak jarang ada juga beberapa orang yang memang tidak layak di beri.

seperti halnya ketika memberi pada para satpol PP dimana ternyata mereka sudah membeli banyak sekali ta'jil untuk mereka sendiri yang pada awalnya saya hanya melihat minuman mineral gelasan seplastik besar yang mereka beli atau juga seorang ibu dengan make up tebal dan memakai perhiasan yang menurut saya lumayan mewah, walaupun mereka berjalan kaki.

saya tidak tahu, apakah make up dan perhiasan itu hanya kamuflase atau kah memang dia benar-benar mampu. yang jelas dia menerima ta'jil seadanya yang diberikan.

apakah semua ini berasal dari alasan, tidak boleh menolak rezeki?

hmm... saya tidak tau.

yang membuat saya semakin mempertanyakan keefektifan tempat pembagian ta'jil ini adalah ketika saya mencoba memberi ta'jil pada seorang sopir angkot yang ternyata di sampingnya terdapat kopi dan air mineral gelasan yang sudah dibuka. rasanya miris sekali.

apa lagi ketika saya pulang dan di jalan saya menemukan pedagang tukang bakso malang keliling yang berbuka puasa dengan memakan semangkok bakso dagangannya sendiri, atau seorang pemulung yang lewat. saya hanya berfikir, jangan-jangan pemulung ini sedang berpuasa, dan dia mungkin saja tidak seberuntung supir angkutan kota tadi yang tidak puasa dan mendapatkan ta'jil gratis.

dalam pikir saya itu, saya hanya berdo'a semoga dari sebuah ta'jil akan dapat mengubah seseorang.

jika sekiranya supir angkutan kota itu bukanlah muslim, maka semoga dengan ta'jil itu si supir menjadi mendapatkan hidayah untuk berislam dan melaksanakan rukun islam yang salah satunya adalah berpuasa.

jika si supir itu memang islam, semoga dengan sebuah ta'jil itu dia juga akan mendapatkan hidayah untuk melaksanakan puasa ramadhan.

dan semoga, dibalik ketidakefektifan yang saya lihat secara fisik, ternyata memiliki efek lain seperti efek domino yang tidak saya tahu.

Pada akhirnya saya hanya dapat berdoa: 'Semoga Allah memberikan kebaikan dari sebuah ta'jil yang diberikan.'





4 Agustus 2012

Diandra Pramuditya

Diandra Pramuditya...

Nama ini digunakan sejak masa SMA.

Awalnya nama ini digunakan buat ngejailin salah satu pengagum temen.

Orang yang setiap ketemu selalu ga suka sama saya, ternyata bisa baik juga ketika berhadapan dengan saya yang 'lain'.

Nama ini begitu aja tercetus. Diandra Pramuditya...

Hanya sempet tau kalo Dian adalah Lilin ato Pelita, tanpa tau arti dari Pramuditya...

bagi saya udah cukup. Karena Pramuditya hanyalah sebuah nama tambahan, agar sang Diandra bisa dipanggil Ditya.

Nama ini juga dipake lagi ketika memasuki masa akhir kuliah.

Karena teman diteror oleh 2 nomor asing, makanya nama ini digunakan lagi buat kenalan dengan sang peneror.

Sekarang nama ini sempat saya pakai untuk account FB saya.

Iseng, saya cari artinya, ternyata Pramuditya artinya adalah kesembuhan dan kebijaksanaan.

Saya pun kemudian iseng mencari apa arti Diandra sebenarnya.

Apakah ini nama sebuah ganggang atau ada arti lain di baliknya.

Dan saya terkejut, karena Diandra dalam bahasa Perancis artinya adalah berkeinginan kuat, sedangkan menurut bahasa Inggris, Diandra adalah gabungan dari kata Deanne (Ilahi), Andrea (Maskulin) dan Sandra (pelindung Manusia).

Bisa di pastikan, sebuah nama yang hanya iseng saya buat memiliki arti yang luar biasa.

Diandra Pramuditya adalah anak berkeinginan kuat yang bijaksana dan memberikan kesembuhan.

Atau bisa juga artinya anak dari Allah yang tomboy (maskulin) yang akan menjadi pelindung manusia yang bijaksana dan memberikan kesembuhan.

Wow…

Arti yang sangat luar biasa.

Mudah-mudahan, bila suatu saat nanti saya memakai nama itu kembali, saya benar-benar akan menjadi orang sesuai dengan arti nama tersebut. ^^