Dulu, ketika ayah temanku meninggal, aku tak tau harus mengatakan apa padanya...
Saat mendengar berita itu, aku hanya bertanya "trus kamu gimana?"
Aku kebingungan karena tak tahu harus berkata apa.
Sekarang, saat kakak iparku meninggal dunia, rasanya kata-kata "yang kuat ya?" atau "yang sabar ya?"
Itu hanya kata-kata kosong yang ga berarti apa-apa. Dan kata-kata 'trus gimana?' itu kembali aku pertanyakan.
Kepergian kakak iparku yang tiba-tiba itu, terasa menyakitkan. Memukul roboh semua kekuatanku.
Aku masih teringat saat-saat bersama beliau, curhatan-curhatan beliau, smua canda tawa beliau.
Ya Allah, mengapa kau berikan cobaan yang sangat berat ini...
Apakah ini caramu 'menamparku' untuk menyadarkanku.
Tak ada cela pada diri beliau, yang ada kebaikan dan kebaikan.
Semua teman, kerabat dan kolega, baik yang pernah bertemu atau yang tidak pernah bertemu, mengatakan smua kebaikan beliau.
Rasanya sulit hidup tanpa beliau, ga ada yang ngasih tahu aku harus bagaimana...
Terutama masalah mengasuh anak beliau.
Semua sinar seperti hilang dan terbang pergi seiring dengan kepergian beliau.
Anak pertamanya berubah malas melakukan apapun. Dia yang paling besar. Masih kelas 6 SD, tapi sudah mengerti.
Betapa menyesakkannya kepergian ibunya itu. 'Jagoan Ummi yang merupakan menantu idaman ibu-ibu komplek karena sudah bisa mengasuh adiknya dengan luar biasa.' Beliau mengatakan itu dengan rasa bangga seorang ibu.
Anaknya yang kedua jadi lebih sulit di atur. Lebih cengeng. "Anak aktif yang pengen jadi Koki buat Umminya." Beliau seringkali marah, sedih kalau anak nya yang kedua ini mulai kumat aktifnya, jailnya dan ga mau diemnya. Tapi di balik itu semua, Umminya merupakan orang yang paling bangga karena anak yang dulu paling lambat dalam semua hal, jauh lebih berkembang termasuk dalam segi hapalan Qur'annya.
Anak yang ketiga merupakan anak yang paling mirip umminya. Cantiknya, sabarnya, tegarnya, rajin belajarnya, semuanya mirip seperti umminya. Bahkan sekarang aku sangat bangga dan merasa kalah dengan ketegarannya. Dalam tubuh kecilnya, terdapat kekuatan yang luar biasa.
Anaknya yang ke empat adalah anak yang paling sering minta perhatian. Sering cengeng, tapi selalu bisa menghibur ketika umminya sedang sedih. Beliau pernah bercerita 'masa anak aku dikatakan lemot no sama gurunya... pengen di keluarin, tapi sekolah ini cuma batu lompatan sambil nunggu dia bisa sekolah di kuttab.' kata tetehku itu dengan geram. Rasanya aku juga bisa merasakan sakit hati yang sama.
Anaknya yang ke enam, adalah anak yang beliau nantikan setelah anak kelima beliau meninggal. Rasa kehilangan itu juga berat bagi beliau, hingga anak ke enam ini dengan sepenuh hati beliau lahirkan. 'Ini anak eksperimen no, dulu pas hamil dia, aku bacain dan dengarin Al-Mulk. Aku ingin tahu, umur berapa dia hapal Al-Mulk.'
Dan satu anak lagi yang ingin dia lahirkan, karena cita-cita beliau adalah melahirkan 7 orang anak yang hafizd Al-Qur'an.
Semua orang mengatakan kebaikan beliau, terutama cara beliau mendidik anak-anak beliau.
Begitu banyak hal yang masih ingin aku tanyakan kepada beliau. Masih banyak hal yang pengen aku ceritakan dan berbagi dengan beliau, tapi beliau pergi secepat ini.
Banyak sekali penyesalan... Salah satunya sdalah 'Kenapa aku ga ada selama satu minggu sebelum dia tiada? Semuanya mungkin akan berbeda... Kalau aku tahu sejak awal, dan mencegah semuanya terjadi.
Beban penyesalan yang akan selalu menggayuti hidupku.
Apalagi ketika aku baca WA nya pada kakakku, tentang ketakutan-ketakutannya, tentang keinginannya untuk melihat anak-anaknya besar dan menikah. Bahkan anaknya yang kedua mengatakan "katanya ummi pengen lihat aku hapal Qur'an di usia 14 tahun?"
Aku berfikir, aku harus bagaimana?
Masih teringat pagi itu sebelum berita kepulangannya, pada jam tiga pagi aku seperti mendengar beliau datang dan memanggil-manggil namaku.. "eno... eno..."
Pagi itu aku yakin beliau akan pulang, akan sembuh. Tapi aku tidak menyangka, kesembuhan dan kepulangan beliau adalah untuk bersama anak kelimanya.
Dengan berat hati, aku ikhlaskan dan aku relakan kepergian beliau, karena aku tidak mau keberatanku menahan beliau untuk berada di tempat yang jauh lebih baik.
Aku tidak berhak menyalahkan Allah karena menakdirkan semua ini, karena aku yakin ada jalan yang terbaik yang Allah akan kasih untuk kami semua. Seperti beliau yang telah memasrahkan anak-anaknya pada perlindungan Allah.
Karena kemarahanku pada takdir Allah yang membuatku sampai pada titik penyesalan ini.
Jadi, aku tidak akan pernah lagi menyalahkanNya. Karena rasa sayangku pada beliau aku belajar, betapa cintanya beliau pada Allah.
Mungkin ada hikmah lain di balik smua ini.
Selamat jalan kakakku yang luar biasa. Terima kasih engkau sudah mengajarkanku banyak hal, dan maaf karena aku belum bisa menjadi adik yang terbaik untukmu.
I LOVE YOU SISTER....
In Memoriam
My Sister, My Friend and My Teacher of Life
13-12-2014
Second Day of Losing you
Jumat, 12 Desember 2014
Minggu, 26 Oktober 2014
Khairul Azzam
Tadi aku melihat film "Ketika Cinta Bertasbih", melihat Abdullah Khairul Azzam, pemeran tokoh utama di film itu, mengingatkanku akan dirimu. Lulusan S2 meski bukan dari kairo yang sederhana. Kalo tau aku menyamakanmu dengannya, pasti kau merendah, 'aku bukan siapa-siapa...' atau malah merasa tidak suka karena diperbandingkan. Tapi jujur, penggambarannya mirip denganmu, sedikit. hehehe...
Lalu, jika kau bertanya, 'Trus kamu mirip siapa disitu no?' Kamu pasti langsung berfikir aku akan menjawab bahwa aku seperti Anna kan? Salah satu tokoh utama wanita dalam film itu, karena kamu berfikir aku masih terlalu menyukaimu?
Tapi sebenarnya, jika pertanyaan itu kau ajukan, aku punya jawaban lain.
'Aku mirip dengan tetangga Abdullah Khairul Azzam atau Anna Althafunnisa yang bahkan tidak akan pernah masuk frame. Atau aku mirip dengan teman Ayatul Husna (Adiknya Azzam), atau temannya Anna yang bahkan saking tidak baiknya, tidak di restui oleh ibunya Azzam dan bahkan tidak masuk hitungan untuk di bicarakan sekalipun pada film itu.'
^^
Terlepas dari itu semua, aku tak tahu seberapa besar kekhawatiranmu padaku mengenai perasaanku atau mengenai keadaanku.
Aku hanya bilang, kau tak perlu khawatir...
Aku tidak akan menunggu, sungguh tidak akan menunggumu. Tapi jika kau ingin datang lagi, semoga lebih serius dari sebelumnya.
Kalau pun tidak, disini aku menantikan kabar bahagia darimu...
Seperti Eliana (tokoh di film yang sama) yang akan tetap memberikan Azzam selamat ketika menikah dan mendoakannya, meskipun dia menyukainya. Sayang, bahkan Eliana saja masih tampak lebih baik daripada aku.
I'll be still out of frame...
27 Oktober 2014
Tengah Malam meresapi makna 'KITA'
Lalu, jika kau bertanya, 'Trus kamu mirip siapa disitu no?' Kamu pasti langsung berfikir aku akan menjawab bahwa aku seperti Anna kan? Salah satu tokoh utama wanita dalam film itu, karena kamu berfikir aku masih terlalu menyukaimu?
Tapi sebenarnya, jika pertanyaan itu kau ajukan, aku punya jawaban lain.
'Aku mirip dengan tetangga Abdullah Khairul Azzam atau Anna Althafunnisa yang bahkan tidak akan pernah masuk frame. Atau aku mirip dengan teman Ayatul Husna (Adiknya Azzam), atau temannya Anna yang bahkan saking tidak baiknya, tidak di restui oleh ibunya Azzam dan bahkan tidak masuk hitungan untuk di bicarakan sekalipun pada film itu.'
^^
Terlepas dari itu semua, aku tak tahu seberapa besar kekhawatiranmu padaku mengenai perasaanku atau mengenai keadaanku.
Aku hanya bilang, kau tak perlu khawatir...
Aku tidak akan menunggu, sungguh tidak akan menunggumu. Tapi jika kau ingin datang lagi, semoga lebih serius dari sebelumnya.
Kalau pun tidak, disini aku menantikan kabar bahagia darimu...
Seperti Eliana (tokoh di film yang sama) yang akan tetap memberikan Azzam selamat ketika menikah dan mendoakannya, meskipun dia menyukainya. Sayang, bahkan Eliana saja masih tampak lebih baik daripada aku.
I'll be still out of frame...
27 Oktober 2014
Tengah Malam meresapi makna 'KITA'
Sabtu, 19 Juli 2014
Candu..
Mencintaimu itu seperti candu,
Membuat melayang dan memabukkan,
Namun mematikan hatiku untuk yang lain.
Merindukanmu itu seperti candu,
Membahagiakan,
Namun menggerogoti setiap bagian tubuhku,
Hingga tiada yang tersisa lagi...
Aku sakau perhatianmu,
Sakau akan pundakmu dimana aku bisa bersandar dan berbagi segalanya.
Aku bosan untuk sakau,
Aku benci jadi pencandu...
Namun aku masih tetap membiarkanmu menggerayangi pikiranku,
Aku yang tak mau lepas,
Atau racunmu yang sudah menjalar sampai ke nadiku?
Ah.. biar saja.
Dan akupun masih terus menikmati canduku...
Masih Merindukanmu..
Dalam peraduanku malam ini.
19 Juli 2014
Membuat melayang dan memabukkan,
Namun mematikan hatiku untuk yang lain.
Merindukanmu itu seperti candu,
Membahagiakan,
Namun menggerogoti setiap bagian tubuhku,
Hingga tiada yang tersisa lagi...
Aku sakau perhatianmu,
Sakau akan pundakmu dimana aku bisa bersandar dan berbagi segalanya.
Aku bosan untuk sakau,
Aku benci jadi pencandu...
Namun aku masih tetap membiarkanmu menggerayangi pikiranku,
Aku yang tak mau lepas,
Atau racunmu yang sudah menjalar sampai ke nadiku?
Ah.. biar saja.
Dan akupun masih terus menikmati canduku...
Masih Merindukanmu..
Dalam peraduanku malam ini.
19 Juli 2014
Minggu, 22 Juni 2014
Berubah...
Perubahan...
Ada orang yang benci dengan itu, bagi mereka berubah berarti tidak lagi berada dalam kondisi nyaman.
Kebanyakan orang memang berubah, entah dari umur mereka yang bertambah, entah dari banyaknya pengalaman yang mereka dapat, entah dari lingkungan sekitar.
Yah... Mungkin aku salah satu yang benci dengan perubahan. Bagiku berubah berarti berbeda dan penyesuaian diri. Entah itu aku atau lingkungan sekitarku yang kemudian menyesuaikan diri.
Ga banyak hal yang bisa teman-temanku lihat dari perubahanku, bagi mereka aku tetaplah sama. Selalu pakai baju kedombrangan, tidak rapih, senang games dan baca komik serta kekanakan yang kadangkala konyol dan polos.
Tapi aku selalu merasa kalau aku berubah.
Mungkin tidak akan terasa dalam pakaianku, tapi kalau temanku cukup teliti melihatku, ada sesuatu yang berubah dalam diriku bahkan dari pakaian dan kelakuanku. Mungkin mereka benar-benar belum mengenalku atau aku terlalu hebat bersandiwara atau memang Allah sengaja menutupi kekuranganku.
Yah, yang manapun itu, aku merasa semakin buruk. Ternyata butuh kekuatan ekstra untukku menjadi lebih baik. Meskipun aku tahu Allah selalu menarikku agar menjadi lebih baik ketika aku semakin buruk.
Hmm...
Masih berkubang disini.
23 Juni 2014
Ketika Merasa Berbeda
Ada orang yang benci dengan itu, bagi mereka berubah berarti tidak lagi berada dalam kondisi nyaman.
Kebanyakan orang memang berubah, entah dari umur mereka yang bertambah, entah dari banyaknya pengalaman yang mereka dapat, entah dari lingkungan sekitar.
Yah... Mungkin aku salah satu yang benci dengan perubahan. Bagiku berubah berarti berbeda dan penyesuaian diri. Entah itu aku atau lingkungan sekitarku yang kemudian menyesuaikan diri.
Ga banyak hal yang bisa teman-temanku lihat dari perubahanku, bagi mereka aku tetaplah sama. Selalu pakai baju kedombrangan, tidak rapih, senang games dan baca komik serta kekanakan yang kadangkala konyol dan polos.
Tapi aku selalu merasa kalau aku berubah.
Mungkin tidak akan terasa dalam pakaianku, tapi kalau temanku cukup teliti melihatku, ada sesuatu yang berubah dalam diriku bahkan dari pakaian dan kelakuanku. Mungkin mereka benar-benar belum mengenalku atau aku terlalu hebat bersandiwara atau memang Allah sengaja menutupi kekuranganku.
Yah, yang manapun itu, aku merasa semakin buruk. Ternyata butuh kekuatan ekstra untukku menjadi lebih baik. Meskipun aku tahu Allah selalu menarikku agar menjadi lebih baik ketika aku semakin buruk.
Hmm...
Masih berkubang disini.
23 Juni 2014
Ketika Merasa Berbeda
Langganan:
Komentar (Atom)

