Kamis, 24 November 2016

Emmm... gimana y...

Akhir-akhir ini sering terpikir, saya itu mudah terpengaruh.
Beberapa waktu yang lalu saya bermimpi tentang seorang arwah anak kecil yang mengikuti gerakan saya.
Saya sangat takut dan kemudian terbangun dari tidur. Entah apa yang membuat saya resah karenanya.
Apa ini berarti saya sedang di ganggu makhluk astral? Hal ini bikin saya merasa takut, karena merasa pertahanan saya semakin lama- semakin menipis.
Sudah lama saya berusaha meninggalkan hal-hal mistis seperti itu dan berjalan dalam jalan logika.
Saya percaya akan adanya hal yang diluar kemampuan kita, tapi sudah lama saya meninggalkan hal seperti dejavu.

Hal yang meresahkan saya yang lain adalah saya bermimpi menikah dengan pria beristri.
Teman kerja yang tidak begitu dekat. Saya tidak pernah terpikirkan tentang orang ini, suka pun tidak.
Bukan orang yang saya ajak mengobrol banyak. Tapi mengapa dia yang ada di dalam mimpi saya? Meski di mimpi saya dia belum menikah.
Masih heran rasanya.
Alhasil ketika dia ajak ngobrol, saya sedikit melamun.
Kalaupun ada pria beristri yang saya suka, harusnya orang yang lain. Orang yang selalu bertengkar sama saya.
Karena orang itu tegas. Orang yang bisa galak dan lembut. Tipe yang saya suka.
Karena saya tipikal orang yang bandel, jadi perlu seseorang untuk mengingatkan.
Yah meskipun saya sampai detik ini tidak pernah merasa tertarik dengan orang yang sudah beristri atau pun memiliki pasangan.
Istri dan pasangan adalah salah satu hal membuat saya langsung tidak tertarik.

Tapi masih sedikit kepikiran, kenapa orang itu ya?
Hmmm... masih bingung.

Minggu, 10 Juli 2016

Sugesti

Cinta itu sebenarnya cuma sugesti. Semakin kita buat sugesti kalau orang itu adalah jodoh kita, maka semua kebetulan akan terlihat sebagai tanda-tanda dari dewa cinta...

- Paul (Film Where Is My Romeo) -

Kata-kata ini tidak sengaja saya dengar ketika menonton film Where Is My Romeo. Film drama romantis yang mirip dengan cerita teenlit. Kata-kata ini menjungkirbalikkan mengenai teori tanda dan pertanda. Yah... kata-kata ini lebih terlihat filosofis dan keluar dari mulut orang yang memahami masalah psikologis, dalam hal ini Paul, tokoh yang digambarkan sebagai pengarang novel.
Saya hanya bisa terdiam sejenak dan berpikir. Jika Cinta benar adalah sugesti, maka siapakan yang mensugesti saya agar selalu teringat akan dirinya? Dan berarti ketidakmampuan saya buat move on adalah karena tidak adanya sugesti yang diberikan untuk saya dapat melupakan dia?
Tapi jujur saya katakan, saya termasuk orang yang sangat tidak percaya dengan kebetulan. Karena setiap hal yang ada di dunia ini tidak ada yang kebetulan. Semuanya sudah terencana dengan rapi oleh Sang Maha Merencanakan. Jadi apakah masih itu merupakan sebuah sugesti? Ntahlah.
Jika cinta itu hanya sugesti, maka saya ingin mensugesti diri saya untuk bisa berpikir bahwa dia tidak sempurna untuk saya.
Karena sampai detik ini, saya masih percaya dia sempurna untuk saya dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
Mungkin, pengakuan atau berita bahwa dia telah menikah adalah sugesti yang sempurna untuk saya bisa melepaskannya dari ingatan saya.


11-07-2016
Masih Menunggu...

Rabu, 23 Maret 2016

Assalamu'alaikum Beijing...

Ini kali kedua saya menonton film Assalamu'alaikum Beijing yang diadaptasi dari novel Asma Nadia. Nama tokoh utama nya pun sedikit mirip, Asmara Nadia dan di situ dia menulis sebuah buku yang berjudul 'Surga Yang Tak Dirindukan' yang merupakan buku lain dari Asma Nadia. Mungkin memang setiap penulis ingin memberikan sentuhan personal akan setiap bukunya, yah... hanya sedikit sekali yang tidak memasukkan bumbu kepersonalan itu dalam karya-karyanya.
Saya menyukai tulisan Asma Nadia, walaupun bukan orang yang sangat suka sekali membaca karya-karyanya (karena satu dan lain hal), tapi saya benar-benar menyukai karyanya. Sederhana,namun masih ada pendidikan dan pemikiran dalam di dalamnya, terutama bagaimana kita beramal diantara sesama dalam koridor yang syar'i. Istilahnya Ngepop classics. Ngepop, tapi masih ada sentuhan klasik disana-sininya.
Assalamu'alaikum Beijing menceritakan tentang seorang gadis bernama Asmara Nadia. Adegan awal dibuka dengan pembicaraan mengenai pembatalan pernikahan antara Asma dan Dewa karena Dewa berselingkuh dan menghamili seseorang bernama Anita. Dewa masih ingin bersama Asma karena dia bilang hanya mencintainya saja. Bagi saya kata-kata ini seperti pepesan kosong, karena tidak mungkin dia berselingkuh dengan orang lain kalau dia benar-benar mencintainya. Cinta ya artinya menjaga.
Kemudian Asma menjadi penulis kolom di Kantor Korensponden Berita Indonesia di Beijing. Ketika sedang mencari bahan dengan berkeliling, Asma bertemu Zhong Wen di bus. Zhong Wen teringat akan Ashima ketika mendengar nama Asma. Ashima adalah perempuan dalam legenda Cina.
Ashima adalah seorang gadis yang hidup di Yunan, dia adalah gadis yang tercantik dan memiliki pribadi yang sangat baik. Dia menyukai seorang pemuda desa sederhana bernama A He. Namun seorang anak kepala suku bernama A Chi juga menyukainya dan berupaya mendapatkannya. Ashima menolak. Kemudian karena marah A Chi menculik Ashima. A Chi berusaha membuat banjir besar dan menenggelamkan seluruh desa beserta penduduknya. A He berusaha mencari Ashima, tapi sayang Ashima sudah menjadi patung batu. Sejak saat itu, setiap A He merindukan Ashima, dia akan mendatangi patung batu tersebut dan berbicara dengan patung Ashima. Yang terdengar hanyalah gema. Gema ini adalah bisikan cinta Ashima pada A He, dan ini cukup untuk menjaga kesetiaan A He pada cinta Ashima.
Seperti cerita itu, Asma jatuh hati pada Zhong Wen dan sebaliknya. Sayang cinta itu terhalang perbedaan agama. Diantara mereka hadirlah Dewa kembali yang bermaksud untuk bersama Asma, dia bahkan berencana menceraikan istrinya. Namun Asma menolaknya. Ketika Asma dan Zhong Wen berencana untuk pergi melihat patung Ashima di Yunan, desa kelahiran Zhong Wen, Asma jatuh sakit dan pulang kembali ke Indonesia. Zhong Wen kecewa. Asma menderita penyakit APS (Anti Postpolipid Syndrome), Sindrom pengentalan darah yang bisa terjadi setiap saat yang menyebabkan penggumpalan darah. Penyakit ini hanya dapat di cegah/ disembuhkan dengan obat pencair darah. Terdapat 2 (dua) jenis APS yaitu, Primer (tidak bisa disembuhkan hanya bisa dicegah untuk penyumbatannya) dan Sekunder (masih bisa di sembuhkan). Penyakit ini dapat membuat Asma keguguran setiap saat dan sulit memiliki anak. Penyakit ini sempat membuat Asma terkena stroke, sakit jantung dan lumpuh. Namun Asma berjuang melawan sampai akhirnya sembuh kembali. Ketika pada akhirnya Zhong Wen menemui Asma di Indonesia, Asma kembali terkena serangan yang menyebabkannya kehilangan penglihatan dan Zhong Wen pun tahu keadaan Asma yang sesungguhnya. Zhong Wen menemani Asma dalam keadaan koma dan meminta restu ibu Asma untuk menikah dengan Asma. Asma akhirnya sadar namun kehilangan suaranya dan tidak bisa bicara lagi. Pada Awalnya Asma menolak menikah dengan Zhong Wen karena merasa tidak sempurna, namun Zhong wen meyakinkan Asma untuk menikah dengannya.
Untuk mendapatkan cinta yang sempurna, tidak membutuhkan fisik yang sempurna...
Dan akhirnya mereka pun menikah dan tinggal di Beijing. Zhong wen ternyata memiliki paman yang ahli obat-obatan, yang ternyata dulu pernah di wawancarai oleh Asma, dan memberikan ramuan yang harus di minum tiga kali sehari untuk mencairkan pengentalan darahnya. Akhir film ini ditutup dengan kabar kehamilan Asma dan keyakinan Asma akan anak yang dikandungnya akan dapat bertahan.
Dia akan setangguh cinta ayah dan ibunya..

Film ini sederhana, hanya tentang cinta. Namun cinta yang digambarkan di film ini bukan cinta yang menggebu dan harus mendapatkan apa yang dicintai. Film ini bercerita tentang bagaimana cinta seharusnya. Cinta itu menjaga, cinta itu menghormati, cinta itu ikhlas. Dan cinta disini berada dalam koridor kesopanan dan kehormatan. Terlihat bagaimana Asma mencintai namun masih tetap menjaga dirinya. Bagaimana Zhong Wen mencintai namun juga masih menjaga kehormatan Asma. Film ini juga bercerita tentang menghormati perbedaan agama. Bukan berarti ketika berbeda kita tidak dapat menghormati orang yang beda agama dengan kita. Dan juga film ini juga menggambarkan tentang jodoh tidak akan kemana. Zhong Wen kecewa ketika di tinggal Asma, namun dia tidak bunuh diri atau malah jadi berpaling menjadi buruk. Dia malah menemukan cinta dan keikhlasan serta hidayah untuk masuk islam.
Berbeda dengan film 'Ketika Cinta Bertasbih' yang perlu nonton 2 kali baru bisa suka. Saya langsung menyukai film ini ketika pertama kali menontonnya, hal inilah yang menggerakkan saya untuk menonton sampai dua kali. Saya tertarik dengan Zhong Wen, dan tertarik dengan Morgan Oey yang memerankannya. Hmm... tapi tak mungkin, karena dia bukan muslim. Dan seperti kata Ridwan (salah satu tokoh dalam film itu yang merupakan suaminya sekar) bahwa
Yang penting iman, romantis bisa menyusul..

23 Maret 2016
Ingin segera menikah (masih dalam penantian)