Rabu, 23 Maret 2016

Assalamu'alaikum Beijing...

Ini kali kedua saya menonton film Assalamu'alaikum Beijing yang diadaptasi dari novel Asma Nadia. Nama tokoh utama nya pun sedikit mirip, Asmara Nadia dan di situ dia menulis sebuah buku yang berjudul 'Surga Yang Tak Dirindukan' yang merupakan buku lain dari Asma Nadia. Mungkin memang setiap penulis ingin memberikan sentuhan personal akan setiap bukunya, yah... hanya sedikit sekali yang tidak memasukkan bumbu kepersonalan itu dalam karya-karyanya.
Saya menyukai tulisan Asma Nadia, walaupun bukan orang yang sangat suka sekali membaca karya-karyanya (karena satu dan lain hal), tapi saya benar-benar menyukai karyanya. Sederhana,namun masih ada pendidikan dan pemikiran dalam di dalamnya, terutama bagaimana kita beramal diantara sesama dalam koridor yang syar'i. Istilahnya Ngepop classics. Ngepop, tapi masih ada sentuhan klasik disana-sininya.
Assalamu'alaikum Beijing menceritakan tentang seorang gadis bernama Asmara Nadia. Adegan awal dibuka dengan pembicaraan mengenai pembatalan pernikahan antara Asma dan Dewa karena Dewa berselingkuh dan menghamili seseorang bernama Anita. Dewa masih ingin bersama Asma karena dia bilang hanya mencintainya saja. Bagi saya kata-kata ini seperti pepesan kosong, karena tidak mungkin dia berselingkuh dengan orang lain kalau dia benar-benar mencintainya. Cinta ya artinya menjaga.
Kemudian Asma menjadi penulis kolom di Kantor Korensponden Berita Indonesia di Beijing. Ketika sedang mencari bahan dengan berkeliling, Asma bertemu Zhong Wen di bus. Zhong Wen teringat akan Ashima ketika mendengar nama Asma. Ashima adalah perempuan dalam legenda Cina.
Ashima adalah seorang gadis yang hidup di Yunan, dia adalah gadis yang tercantik dan memiliki pribadi yang sangat baik. Dia menyukai seorang pemuda desa sederhana bernama A He. Namun seorang anak kepala suku bernama A Chi juga menyukainya dan berupaya mendapatkannya. Ashima menolak. Kemudian karena marah A Chi menculik Ashima. A Chi berusaha membuat banjir besar dan menenggelamkan seluruh desa beserta penduduknya. A He berusaha mencari Ashima, tapi sayang Ashima sudah menjadi patung batu. Sejak saat itu, setiap A He merindukan Ashima, dia akan mendatangi patung batu tersebut dan berbicara dengan patung Ashima. Yang terdengar hanyalah gema. Gema ini adalah bisikan cinta Ashima pada A He, dan ini cukup untuk menjaga kesetiaan A He pada cinta Ashima.
Seperti cerita itu, Asma jatuh hati pada Zhong Wen dan sebaliknya. Sayang cinta itu terhalang perbedaan agama. Diantara mereka hadirlah Dewa kembali yang bermaksud untuk bersama Asma, dia bahkan berencana menceraikan istrinya. Namun Asma menolaknya. Ketika Asma dan Zhong Wen berencana untuk pergi melihat patung Ashima di Yunan, desa kelahiran Zhong Wen, Asma jatuh sakit dan pulang kembali ke Indonesia. Zhong Wen kecewa. Asma menderita penyakit APS (Anti Postpolipid Syndrome), Sindrom pengentalan darah yang bisa terjadi setiap saat yang menyebabkan penggumpalan darah. Penyakit ini hanya dapat di cegah/ disembuhkan dengan obat pencair darah. Terdapat 2 (dua) jenis APS yaitu, Primer (tidak bisa disembuhkan hanya bisa dicegah untuk penyumbatannya) dan Sekunder (masih bisa di sembuhkan). Penyakit ini dapat membuat Asma keguguran setiap saat dan sulit memiliki anak. Penyakit ini sempat membuat Asma terkena stroke, sakit jantung dan lumpuh. Namun Asma berjuang melawan sampai akhirnya sembuh kembali. Ketika pada akhirnya Zhong Wen menemui Asma di Indonesia, Asma kembali terkena serangan yang menyebabkannya kehilangan penglihatan dan Zhong Wen pun tahu keadaan Asma yang sesungguhnya. Zhong Wen menemani Asma dalam keadaan koma dan meminta restu ibu Asma untuk menikah dengan Asma. Asma akhirnya sadar namun kehilangan suaranya dan tidak bisa bicara lagi. Pada Awalnya Asma menolak menikah dengan Zhong Wen karena merasa tidak sempurna, namun Zhong wen meyakinkan Asma untuk menikah dengannya.
Untuk mendapatkan cinta yang sempurna, tidak membutuhkan fisik yang sempurna...
Dan akhirnya mereka pun menikah dan tinggal di Beijing. Zhong wen ternyata memiliki paman yang ahli obat-obatan, yang ternyata dulu pernah di wawancarai oleh Asma, dan memberikan ramuan yang harus di minum tiga kali sehari untuk mencairkan pengentalan darahnya. Akhir film ini ditutup dengan kabar kehamilan Asma dan keyakinan Asma akan anak yang dikandungnya akan dapat bertahan.
Dia akan setangguh cinta ayah dan ibunya..

Film ini sederhana, hanya tentang cinta. Namun cinta yang digambarkan di film ini bukan cinta yang menggebu dan harus mendapatkan apa yang dicintai. Film ini bercerita tentang bagaimana cinta seharusnya. Cinta itu menjaga, cinta itu menghormati, cinta itu ikhlas. Dan cinta disini berada dalam koridor kesopanan dan kehormatan. Terlihat bagaimana Asma mencintai namun masih tetap menjaga dirinya. Bagaimana Zhong Wen mencintai namun juga masih menjaga kehormatan Asma. Film ini juga bercerita tentang menghormati perbedaan agama. Bukan berarti ketika berbeda kita tidak dapat menghormati orang yang beda agama dengan kita. Dan juga film ini juga menggambarkan tentang jodoh tidak akan kemana. Zhong Wen kecewa ketika di tinggal Asma, namun dia tidak bunuh diri atau malah jadi berpaling menjadi buruk. Dia malah menemukan cinta dan keikhlasan serta hidayah untuk masuk islam.
Berbeda dengan film 'Ketika Cinta Bertasbih' yang perlu nonton 2 kali baru bisa suka. Saya langsung menyukai film ini ketika pertama kali menontonnya, hal inilah yang menggerakkan saya untuk menonton sampai dua kali. Saya tertarik dengan Zhong Wen, dan tertarik dengan Morgan Oey yang memerankannya. Hmm... tapi tak mungkin, karena dia bukan muslim. Dan seperti kata Ridwan (salah satu tokoh dalam film itu yang merupakan suaminya sekar) bahwa
Yang penting iman, romantis bisa menyusul..

23 Maret 2016
Ingin segera menikah (masih dalam penantian)