Minggu, 29 Desember 2013

Orang Yang Biasa...

seorang temen pernah bertanya pada saya, "kamu pengen orang seperti apa sih untuk menjadi suamimu?"
dan saya menjawab, "orang yang biasa aja..."

dia tidak bertanya lagi seperti apa orang yang biasa itu. dan akhirnya saya membiarkan dia berpikir seperti apa orang biasa yang saya maksud.
kalau boleh menjelaskan, orang biasa yang saya maksud adalah orang yang sederhana. mau dia kaya raya atau tidak kaya raya, yang penting dia sederhana, bukan orang yang sombong atau orang yang tinggi hati atau orang yang suka hura-hura.
saya tidak minta dia harus menjajani saya pizza setiap hari atau setiap waktu, tapi kalo sesekali kita pergi makan di luar, ya... ga apa-apa. saya ga minta dia harus ustadz yang hapal 30 juz, karena saya juga belum hapal juz 30.
saya pernah mengatakan ada tiga syarat yang saya inginkan untuk calon suami saya, dan itu semua ada alasannya.

1. saya ingin orang yang sholat subuhnya di masjid.
alasan kenapa saya ingin orang yang seperti ini adalah karena saya juga bukanlah orang yang gampang bangun pagi. saya berharap jika suami saya orang yang suka sholat subuh di masjid, maka dia akan bisa ngebangunin saya sholat subuh, meskipun pada prakteknya saya juga ga menutup kemungkinan kami akan saling membangunkan.

2. saya ingin orang yang minimal hapal juz 30.
alasannya adalah karena saya belum hapal juz 30, kalau suami saya hapal, kami akan bisa melatih hapalan anak kami dengan baik. karena bangaimanapun juga anak akan lebih menurut ketika diberi contoh bukan hanya sekedar diminta melakukan sesuatu...
saya ingin seseorang yang baik bacaan Al-Qur'annya atau sedang belajar untuk memperbaiki bacaannya karena saya punya mimpi suami saya akan membacakan Al-Qur'an ketika saya sedang hamil.

3. saya akan bertanya: apa yang sudah atau yang akan kamu berikan untuk dakwah?
alasannya adalah karena saya ingin diajarkan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. karena dakwah tuh artinya menyeru kepada orang lain. bermanfaat bagi orang lain artinya berdakwah. saya akan jauh lebih senang jika suami saya bukan orang yang melulu mengejar dunia, tapi juga hidup untuk akhiratnya. tapi juga bukan berarti dia hanya hidup untuk akhirat tanpa mengejar dunianya.

Orang yang saya inginkan adalah orang yang sederhana, orang yang baik agamanya. karena orang yang baik agamanya saya percaya tidak akan menyakiti hati saya, dan saya percaya akan mampu atau mau menyeimbangkan dunianya dan akhiratnya. kalaupun dia belum mampu, setidaknya dia mau. dan selama dia mau, maka saya bersedia untuk belajar bersama dengannya.

ketika seseorang itu saya pilih, maka saya percaya padanya. bagi saya, mudah sekali untuk jatuh cinta, tapi susah untuk percaya pada seseorang.

30-12-2013
ketika hati merindu untuk menikah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar