Rabu, 23 Maret 2016

Assalamu'alaikum Beijing...

Ini kali kedua saya menonton film Assalamu'alaikum Beijing yang diadaptasi dari novel Asma Nadia. Nama tokoh utama nya pun sedikit mirip, Asmara Nadia dan di situ dia menulis sebuah buku yang berjudul 'Surga Yang Tak Dirindukan' yang merupakan buku lain dari Asma Nadia. Mungkin memang setiap penulis ingin memberikan sentuhan personal akan setiap bukunya, yah... hanya sedikit sekali yang tidak memasukkan bumbu kepersonalan itu dalam karya-karyanya.
Saya menyukai tulisan Asma Nadia, walaupun bukan orang yang sangat suka sekali membaca karya-karyanya (karena satu dan lain hal), tapi saya benar-benar menyukai karyanya. Sederhana,namun masih ada pendidikan dan pemikiran dalam di dalamnya, terutama bagaimana kita beramal diantara sesama dalam koridor yang syar'i. Istilahnya Ngepop classics. Ngepop, tapi masih ada sentuhan klasik disana-sininya.
Assalamu'alaikum Beijing menceritakan tentang seorang gadis bernama Asmara Nadia. Adegan awal dibuka dengan pembicaraan mengenai pembatalan pernikahan antara Asma dan Dewa karena Dewa berselingkuh dan menghamili seseorang bernama Anita. Dewa masih ingin bersama Asma karena dia bilang hanya mencintainya saja. Bagi saya kata-kata ini seperti pepesan kosong, karena tidak mungkin dia berselingkuh dengan orang lain kalau dia benar-benar mencintainya. Cinta ya artinya menjaga.
Kemudian Asma menjadi penulis kolom di Kantor Korensponden Berita Indonesia di Beijing. Ketika sedang mencari bahan dengan berkeliling, Asma bertemu Zhong Wen di bus. Zhong Wen teringat akan Ashima ketika mendengar nama Asma. Ashima adalah perempuan dalam legenda Cina.
Ashima adalah seorang gadis yang hidup di Yunan, dia adalah gadis yang tercantik dan memiliki pribadi yang sangat baik. Dia menyukai seorang pemuda desa sederhana bernama A He. Namun seorang anak kepala suku bernama A Chi juga menyukainya dan berupaya mendapatkannya. Ashima menolak. Kemudian karena marah A Chi menculik Ashima. A Chi berusaha membuat banjir besar dan menenggelamkan seluruh desa beserta penduduknya. A He berusaha mencari Ashima, tapi sayang Ashima sudah menjadi patung batu. Sejak saat itu, setiap A He merindukan Ashima, dia akan mendatangi patung batu tersebut dan berbicara dengan patung Ashima. Yang terdengar hanyalah gema. Gema ini adalah bisikan cinta Ashima pada A He, dan ini cukup untuk menjaga kesetiaan A He pada cinta Ashima.
Seperti cerita itu, Asma jatuh hati pada Zhong Wen dan sebaliknya. Sayang cinta itu terhalang perbedaan agama. Diantara mereka hadirlah Dewa kembali yang bermaksud untuk bersama Asma, dia bahkan berencana menceraikan istrinya. Namun Asma menolaknya. Ketika Asma dan Zhong Wen berencana untuk pergi melihat patung Ashima di Yunan, desa kelahiran Zhong Wen, Asma jatuh sakit dan pulang kembali ke Indonesia. Zhong Wen kecewa. Asma menderita penyakit APS (Anti Postpolipid Syndrome), Sindrom pengentalan darah yang bisa terjadi setiap saat yang menyebabkan penggumpalan darah. Penyakit ini hanya dapat di cegah/ disembuhkan dengan obat pencair darah. Terdapat 2 (dua) jenis APS yaitu, Primer (tidak bisa disembuhkan hanya bisa dicegah untuk penyumbatannya) dan Sekunder (masih bisa di sembuhkan). Penyakit ini dapat membuat Asma keguguran setiap saat dan sulit memiliki anak. Penyakit ini sempat membuat Asma terkena stroke, sakit jantung dan lumpuh. Namun Asma berjuang melawan sampai akhirnya sembuh kembali. Ketika pada akhirnya Zhong Wen menemui Asma di Indonesia, Asma kembali terkena serangan yang menyebabkannya kehilangan penglihatan dan Zhong Wen pun tahu keadaan Asma yang sesungguhnya. Zhong Wen menemani Asma dalam keadaan koma dan meminta restu ibu Asma untuk menikah dengan Asma. Asma akhirnya sadar namun kehilangan suaranya dan tidak bisa bicara lagi. Pada Awalnya Asma menolak menikah dengan Zhong Wen karena merasa tidak sempurna, namun Zhong wen meyakinkan Asma untuk menikah dengannya.
Untuk mendapatkan cinta yang sempurna, tidak membutuhkan fisik yang sempurna...
Dan akhirnya mereka pun menikah dan tinggal di Beijing. Zhong wen ternyata memiliki paman yang ahli obat-obatan, yang ternyata dulu pernah di wawancarai oleh Asma, dan memberikan ramuan yang harus di minum tiga kali sehari untuk mencairkan pengentalan darahnya. Akhir film ini ditutup dengan kabar kehamilan Asma dan keyakinan Asma akan anak yang dikandungnya akan dapat bertahan.
Dia akan setangguh cinta ayah dan ibunya..

Film ini sederhana, hanya tentang cinta. Namun cinta yang digambarkan di film ini bukan cinta yang menggebu dan harus mendapatkan apa yang dicintai. Film ini bercerita tentang bagaimana cinta seharusnya. Cinta itu menjaga, cinta itu menghormati, cinta itu ikhlas. Dan cinta disini berada dalam koridor kesopanan dan kehormatan. Terlihat bagaimana Asma mencintai namun masih tetap menjaga dirinya. Bagaimana Zhong Wen mencintai namun juga masih menjaga kehormatan Asma. Film ini juga bercerita tentang menghormati perbedaan agama. Bukan berarti ketika berbeda kita tidak dapat menghormati orang yang beda agama dengan kita. Dan juga film ini juga menggambarkan tentang jodoh tidak akan kemana. Zhong Wen kecewa ketika di tinggal Asma, namun dia tidak bunuh diri atau malah jadi berpaling menjadi buruk. Dia malah menemukan cinta dan keikhlasan serta hidayah untuk masuk islam.
Berbeda dengan film 'Ketika Cinta Bertasbih' yang perlu nonton 2 kali baru bisa suka. Saya langsung menyukai film ini ketika pertama kali menontonnya, hal inilah yang menggerakkan saya untuk menonton sampai dua kali. Saya tertarik dengan Zhong Wen, dan tertarik dengan Morgan Oey yang memerankannya. Hmm... tapi tak mungkin, karena dia bukan muslim. Dan seperti kata Ridwan (salah satu tokoh dalam film itu yang merupakan suaminya sekar) bahwa
Yang penting iman, romantis bisa menyusul..

23 Maret 2016
Ingin segera menikah (masih dalam penantian)

Kamis, 26 November 2015

Pertanda..

Temanku sering kali bercerita tentang pertanda. Karena dia merupakan seorang yang indigo (katanya), maka dia selalu perhatian dengan semua tanda-tanda. Biasanya angka, atau malah mimpi atau juga suatu bayangan. Bagiku tak ada masalah, karena untuk seorang yang bukan indigo seperti aku, aku juga sering mendapatkan pertanda. Biasanya dengan suatu keyakinan hati.
Tanda atau pertanda bukanlah suatu hal yang sangat asing bagiku, karena selama kuliah, aku mendapatkan pelajaran mengenai tanda atau pertanda. Tanda atau Sign termasuk pada mata kuliah linguistik, dimana aku berkenalan dengan salah satu tokohnya yaitu
Ferdinand de Saussure
. Menurut Saussure,
semua yang ada di dunia ini adalah teks, dan semua teks adalah tanda/pertanda
. Semua adalah tanda, termasuk warna baju yang kita pakai mengisyaratkan sesuatu.
Tapi warna baju bagiku bukanlah suatu pertanda, karena selama aku kuliah aku tidak pernah merasa harus memilih-milih warna baju yang kupakai. Aku hanya memakai baju yang saat itu masih bersih atau yang sudah kujemur. Mau itu sudah di setrika atau belum, aku tidak pernah mempedulikannya. Kalau lagi rajin, tentu saja baju itu sudah aku setrika, tapi kalau tidak rajin dan memang lebih seringnya aku tidak rajin, baju itu kupakai begitu saja walaupun masih kusut dan baru kuambil dari jemuran. Jadi bagiku, warna baju bukanlah suatu pertanda, tapi kusut atau tidak bajuku itu barulah suatu pertanda (pertanda aku sedang rajin atau tidak).
Yah... semua memang bisa di jadikan pertanda, mulai dari yang mistis sampai yang logis sepertiku.
Tapi aku sempat juga terpengaruh dengan ucapan temanku itu. Dulu, beberapa tahun yang lalu, dia sangat senang membaca buku numerologi karangan Glynis Mccants. Dimana kita bisa membaca seseorang dari perhitungan nama dan tanggal lahir.
Caranya, kita menambahkan huruf vokal pada nama kita hingga menjadi satu digit nomor, maka akan terbentuklah soul number. Dari namanya kita bisa tahu bahwa itu adalah nomor dari jiwa (kata buku numerologi). Nomor yang akan memberi tahu apa yang harus di penuhi agar jiwa kita nyaman/ ga gampang stress.
Penambahan huruf konsonan dari nama kita menjadi satu nomor akan membentuk personality number. Dalam buku ini di sebutkan bahwa personality number adalah nomor yang menggambarkan bagaimana orang lain/lingkungan sekitar melihat kita. Penambahan antara soul number dan personality number menjadi satu nomor, di sebut power name number. Nomor ini dikatakan sebagai nomor yang paling menunjukkan karakter diri seseorang.
Nomor selanjutnya adalah penambahan tanggal lahir menjadi satu nomor yang disebut birthday number. Nomor ini dikatakan nomor first impression, atau bisa dibilang persepsi ketika pertama kali bertemu. Selanjutnya adalah Attitude Number, nomor ini didapat dengan menambahkan tanggal lahir dan bulan lahir. Sama seperti namanya nomor ini juga merupakan nomor bagaimana seseorang menampilkan dirinya pada orang lain.
Nomor yang terakhir adalah Life Path, kita bisa mendapatkannya dari penambahan tanggal lahir, bulan lahir dan tahun lahir kita sampai menjadi satu nomor. Sesuai dengan namanya, Life path adalah lintasan takdir hidup seseorang (menurut buku itu).

Lalu apa hubungannya ini dengan pertanda?
Hubungannya adalah, saya pernah benar-benar begitu percaya dengan pembacaan karakter ini hingga merasa terhanyut dan terobsesi dengan seseorang.
Ini nomor saya yang di hitung:

soul number 5+6+9+9+1+9+1+1+9+9 = 5
Personality number 9+2+5+5+4+2+3+8+7+5+5+7+1+8 = 8
power name number 5+8 = 4
birth day number 2+9 = 2
Life path number 2+9+1+0+1+9+8+6 = 9
attitude number 2+9+1+0 = 3

Ini nomor orang itu dengan nama asli:

soul number 1+9+7+1+3+1+1 = 5
Personality number 4+8+2+7+9+5 = 8
power name number 5+8 = 4
birth day number 9 = 9
Life path number 9+1+2+1+9+8+6 = 9
attitude number 9+1+2 = 3

Nomor orang itu dengan nama panggilannya:

soul number 1+9+3+1+1 = 6
Personality number 4+2+7+9+5 = 9
power name number 6+9 = 6
birth day number 2+9 = 2
Life path number 2+9+1+0+1+9+8+6 = 9
attitude number 2+9+1+0 = 3

5 dari 6 angka kami sama. Jika yang digunakan nama aslinya. Jika yang digunakan nama panggilannya sehari-hari maka ada 4 angka yang tidak sama. Dua angka Challenge, dua angka compatible, dan dua angka natural match alias cocok/sama.
Challenge artinya perbedaan yang signifikan, dimana apa pun yang dikatakan akan selalu menimbulkan kesalahpahaman/ ketidakmengertian. Compatible artinya kita tidak selalu langsung mengerti apa yang dikatakan, tapi hal itu tetap membuat dua orang saling menarik, di situ orang bisa belajar setuju untuk ketidaksetujuan. ^^!
Natural match artinya cocok atau mudah untuk saling memahami.
Jika memiliki kesamaan nomor lebih dari 4, maka bisa dibilang mereka twin soul. Jiwa yang kembar. Makanya tak jarang (menurut buku) mereka akan saling mudah memprediksi kata-kata masing-masing.
Nah disinilah masalah itu muncul. Orang dengan nomor yang sama katanya akan memiliki jalan takdir yang tidak jauh berbeda. Dan hal ini membuat saya merasa kami cocok.
Saya ketika SMA sampai awal kuliah senang menggambar komik (meskipun hanya tokoh-tokohnya saja), dia ingin sekolah komik.
Saya ingin jadi penulis, dia seorang penulis.
Saya dan dia menjadi guru privat, lalu guru SD.
Tak jarang kami menyukai hal yang sama walau dengan alasan dan sudut pandang yang berbeda.
Dan beberapa hal yang membuat saya berpikir, apakah kita berjodoh?

(ok. kita lanjut kapan-kapan pembahasannya...)

Jumat, 12 Desember 2014

Selamat Jalan Tetehku yang Luar Biasa....

Dulu, ketika ayah temanku meninggal, aku tak tau harus mengatakan apa padanya...
Saat mendengar berita itu, aku hanya bertanya "trus kamu gimana?"
Aku kebingungan karena tak tahu harus berkata apa.

Sekarang, saat kakak iparku meninggal dunia, rasanya kata-kata "yang kuat ya?" atau "yang sabar ya?"
Itu hanya kata-kata kosong yang ga berarti apa-apa. Dan kata-kata 'trus gimana?' itu kembali aku pertanyakan.
Kepergian kakak iparku yang tiba-tiba itu, terasa menyakitkan. Memukul roboh semua kekuatanku.
Aku masih teringat saat-saat bersama beliau, curhatan-curhatan beliau, smua canda tawa beliau.
Ya Allah, mengapa kau berikan cobaan yang sangat berat ini...
Apakah ini caramu 'menamparku' untuk menyadarkanku.

Tak ada cela pada diri beliau, yang ada kebaikan dan kebaikan.
Semua teman, kerabat dan kolega, baik yang pernah bertemu atau yang tidak pernah bertemu, mengatakan smua kebaikan beliau.
Rasanya sulit hidup tanpa beliau, ga ada yang ngasih tahu aku harus bagaimana...
Terutama masalah mengasuh anak beliau.
Semua sinar seperti hilang dan terbang pergi seiring dengan kepergian beliau.

Anak pertamanya berubah malas melakukan apapun. Dia yang paling besar. Masih kelas 6 SD, tapi sudah mengerti.
Betapa menyesakkannya kepergian ibunya itu. 'Jagoan Ummi yang merupakan menantu idaman ibu-ibu komplek karena sudah bisa mengasuh adiknya dengan luar biasa.' Beliau mengatakan itu dengan rasa bangga seorang ibu.
Anaknya yang kedua jadi lebih sulit di atur. Lebih cengeng. "Anak aktif yang pengen jadi Koki buat Umminya." Beliau seringkali marah, sedih kalau anak nya yang kedua ini mulai kumat aktifnya, jailnya dan ga mau diemnya. Tapi di balik itu semua, Umminya merupakan orang yang paling bangga karena anak yang dulu paling lambat dalam semua hal, jauh lebih berkembang termasuk dalam segi hapalan Qur'annya.
Anak yang ketiga merupakan anak yang paling mirip umminya. Cantiknya, sabarnya, tegarnya, rajin belajarnya, semuanya mirip seperti umminya. Bahkan sekarang aku sangat bangga dan merasa kalah dengan ketegarannya. Dalam tubuh kecilnya, terdapat kekuatan yang luar biasa.
Anaknya yang ke empat adalah anak yang paling sering minta perhatian. Sering cengeng, tapi selalu bisa menghibur ketika umminya sedang sedih. Beliau pernah bercerita 'masa anak aku dikatakan lemot no sama gurunya... pengen di keluarin, tapi sekolah ini cuma batu lompatan sambil nunggu dia bisa sekolah di kuttab.' kata tetehku itu dengan geram. Rasanya aku juga bisa merasakan sakit hati yang sama.
Anaknya yang ke enam, adalah anak yang beliau nantikan setelah anak kelima beliau meninggal. Rasa kehilangan itu juga berat bagi beliau, hingga anak ke enam ini dengan sepenuh hati beliau lahirkan. 'Ini anak eksperimen no, dulu pas hamil dia, aku bacain dan dengarin Al-Mulk. Aku ingin tahu, umur berapa dia hapal Al-Mulk.'
Dan satu anak lagi yang ingin dia lahirkan, karena cita-cita beliau adalah melahirkan 7 orang anak yang hafizd Al-Qur'an.

Semua orang mengatakan kebaikan beliau, terutama cara beliau mendidik anak-anak beliau.
Begitu banyak hal yang masih ingin aku tanyakan kepada beliau. Masih banyak hal yang pengen aku ceritakan dan berbagi dengan beliau, tapi beliau pergi secepat ini.
Banyak sekali penyesalan... Salah satunya sdalah 'Kenapa aku ga ada selama satu minggu sebelum dia tiada? Semuanya mungkin akan berbeda... Kalau aku tahu sejak awal, dan mencegah semuanya terjadi.
Beban penyesalan yang akan selalu menggayuti hidupku.
Apalagi ketika aku baca WA nya pada kakakku, tentang ketakutan-ketakutannya, tentang keinginannya untuk melihat anak-anaknya besar dan menikah. Bahkan anaknya yang kedua mengatakan "katanya ummi pengen lihat aku hapal Qur'an di usia 14 tahun?"
Aku berfikir, aku harus bagaimana?

Masih teringat pagi itu sebelum berita kepulangannya, pada jam tiga pagi aku seperti mendengar beliau datang dan memanggil-manggil namaku.. "eno... eno..."
Pagi itu aku yakin beliau akan pulang, akan sembuh. Tapi aku tidak menyangka, kesembuhan dan kepulangan beliau adalah untuk bersama anak kelimanya.
Dengan berat hati, aku ikhlaskan dan aku relakan kepergian beliau, karena aku tidak mau keberatanku menahan beliau untuk berada di tempat yang jauh lebih baik.
Aku tidak berhak menyalahkan Allah karena menakdirkan semua ini, karena aku yakin ada jalan yang terbaik yang Allah akan kasih untuk kami semua. Seperti beliau yang telah memasrahkan anak-anaknya pada perlindungan Allah.
Karena kemarahanku pada takdir Allah yang membuatku sampai pada titik penyesalan ini.
Jadi, aku tidak akan pernah lagi menyalahkanNya. Karena rasa sayangku pada beliau aku belajar, betapa cintanya beliau pada Allah.
Mungkin ada hikmah lain di balik smua ini.
Selamat jalan kakakku yang luar biasa. Terima kasih engkau sudah mengajarkanku banyak hal, dan maaf karena aku belum bisa menjadi adik yang terbaik untukmu.
I LOVE YOU SISTER....



In Memoriam
My Sister, My Friend and My Teacher of Life
13-12-2014
Second Day of Losing you

Minggu, 26 Oktober 2014

Khairul Azzam

Tadi aku melihat film "Ketika Cinta Bertasbih", melihat Abdullah Khairul Azzam, pemeran tokoh utama di film itu, mengingatkanku akan dirimu. Lulusan S2 meski bukan dari kairo yang sederhana. Kalo tau aku menyamakanmu dengannya, pasti kau merendah, 'aku bukan siapa-siapa...' atau malah merasa tidak suka karena diperbandingkan. Tapi jujur, penggambarannya mirip denganmu, sedikit. hehehe...
Lalu, jika kau bertanya, 'Trus kamu mirip siapa disitu no?' Kamu pasti langsung berfikir aku akan menjawab bahwa aku seperti Anna kan? Salah satu tokoh utama wanita dalam film itu, karena kamu berfikir aku masih terlalu menyukaimu?
Tapi sebenarnya, jika pertanyaan itu kau ajukan, aku punya jawaban lain.
'Aku mirip dengan tetangga Abdullah Khairul Azzam atau Anna Althafunnisa yang bahkan tidak akan pernah masuk frame. Atau aku mirip dengan teman Ayatul Husna (Adiknya Azzam), atau temannya Anna yang bahkan saking tidak baiknya, tidak di restui oleh ibunya Azzam dan bahkan tidak masuk hitungan untuk di bicarakan sekalipun pada film itu.'
^^

Terlepas dari itu semua, aku tak tahu seberapa besar kekhawatiranmu padaku mengenai perasaanku atau mengenai keadaanku.
Aku hanya bilang, kau tak perlu khawatir...
Aku tidak akan menunggu, sungguh tidak akan menunggumu. Tapi jika kau ingin datang lagi, semoga lebih serius dari sebelumnya.
Kalau pun tidak, disini aku menantikan kabar bahagia darimu...
Seperti Eliana (tokoh di film yang sama) yang akan tetap memberikan Azzam selamat ketika menikah dan mendoakannya, meskipun dia menyukainya. Sayang, bahkan Eliana saja masih tampak lebih baik daripada aku.
I'll be still out of frame...

27 Oktober 2014
Tengah Malam meresapi makna 'KITA'

Sabtu, 19 Juli 2014

Candu..

Mencintaimu itu seperti candu,
Membuat melayang dan memabukkan,
Namun mematikan hatiku untuk yang lain.

Merindukanmu itu seperti candu,
Membahagiakan,
Namun menggerogoti setiap bagian tubuhku,
Hingga tiada yang tersisa lagi...

Aku sakau perhatianmu,
Sakau akan pundakmu dimana aku bisa bersandar dan berbagi segalanya.

Aku bosan untuk sakau,
Aku benci jadi pencandu...
Namun aku masih tetap membiarkanmu menggerayangi pikiranku,
Aku yang tak mau lepas,
Atau racunmu yang sudah menjalar sampai ke nadiku?
Ah.. biar saja.
Dan akupun masih terus menikmati canduku...




Masih Merindukanmu..
Dalam peraduanku malam ini.
19 Juli 2014


Minggu, 22 Juni 2014

Berubah...

Perubahan...
Ada orang yang benci dengan itu, bagi mereka berubah berarti tidak lagi berada dalam kondisi nyaman.
Kebanyakan orang memang berubah, entah dari umur mereka yang bertambah, entah dari banyaknya pengalaman yang mereka dapat, entah dari lingkungan sekitar.
Yah... Mungkin aku salah satu yang benci dengan perubahan. Bagiku berubah berarti berbeda dan penyesuaian diri. Entah itu aku atau lingkungan sekitarku yang kemudian menyesuaikan diri.
Ga banyak hal yang bisa teman-temanku lihat dari perubahanku, bagi mereka aku tetaplah sama. Selalu pakai baju kedombrangan, tidak rapih, senang games dan baca komik serta kekanakan yang kadangkala konyol dan polos.
Tapi aku selalu merasa kalau aku berubah.
Mungkin tidak akan terasa dalam pakaianku, tapi kalau temanku cukup teliti melihatku, ada sesuatu yang berubah dalam diriku bahkan dari pakaian dan kelakuanku. Mungkin mereka benar-benar belum mengenalku atau aku terlalu hebat bersandiwara atau memang Allah sengaja menutupi kekuranganku.
Yah, yang manapun itu, aku merasa semakin buruk. Ternyata butuh kekuatan ekstra untukku menjadi lebih baik. Meskipun aku tahu Allah selalu menarikku agar menjadi lebih baik ketika aku semakin buruk.
Hmm...
Masih berkubang disini.


23 Juni 2014
Ketika Merasa Berbeda

Minggu, 29 Desember 2013

Orang Yang Biasa...

seorang temen pernah bertanya pada saya, "kamu pengen orang seperti apa sih untuk menjadi suamimu?"
dan saya menjawab, "orang yang biasa aja..."

dia tidak bertanya lagi seperti apa orang yang biasa itu. dan akhirnya saya membiarkan dia berpikir seperti apa orang biasa yang saya maksud.
kalau boleh menjelaskan, orang biasa yang saya maksud adalah orang yang sederhana. mau dia kaya raya atau tidak kaya raya, yang penting dia sederhana, bukan orang yang sombong atau orang yang tinggi hati atau orang yang suka hura-hura.
saya tidak minta dia harus menjajani saya pizza setiap hari atau setiap waktu, tapi kalo sesekali kita pergi makan di luar, ya... ga apa-apa. saya ga minta dia harus ustadz yang hapal 30 juz, karena saya juga belum hapal juz 30.
saya pernah mengatakan ada tiga syarat yang saya inginkan untuk calon suami saya, dan itu semua ada alasannya.

1. saya ingin orang yang sholat subuhnya di masjid.
alasan kenapa saya ingin orang yang seperti ini adalah karena saya juga bukanlah orang yang gampang bangun pagi. saya berharap jika suami saya orang yang suka sholat subuh di masjid, maka dia akan bisa ngebangunin saya sholat subuh, meskipun pada prakteknya saya juga ga menutup kemungkinan kami akan saling membangunkan.

2. saya ingin orang yang minimal hapal juz 30.
alasannya adalah karena saya belum hapal juz 30, kalau suami saya hapal, kami akan bisa melatih hapalan anak kami dengan baik. karena bangaimanapun juga anak akan lebih menurut ketika diberi contoh bukan hanya sekedar diminta melakukan sesuatu...
saya ingin seseorang yang baik bacaan Al-Qur'annya atau sedang belajar untuk memperbaiki bacaannya karena saya punya mimpi suami saya akan membacakan Al-Qur'an ketika saya sedang hamil.

3. saya akan bertanya: apa yang sudah atau yang akan kamu berikan untuk dakwah?
alasannya adalah karena saya ingin diajarkan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain. karena dakwah tuh artinya menyeru kepada orang lain. bermanfaat bagi orang lain artinya berdakwah. saya akan jauh lebih senang jika suami saya bukan orang yang melulu mengejar dunia, tapi juga hidup untuk akhiratnya. tapi juga bukan berarti dia hanya hidup untuk akhirat tanpa mengejar dunianya.

Orang yang saya inginkan adalah orang yang sederhana, orang yang baik agamanya. karena orang yang baik agamanya saya percaya tidak akan menyakiti hati saya, dan saya percaya akan mampu atau mau menyeimbangkan dunianya dan akhiratnya. kalaupun dia belum mampu, setidaknya dia mau. dan selama dia mau, maka saya bersedia untuk belajar bersama dengannya.

ketika seseorang itu saya pilih, maka saya percaya padanya. bagi saya, mudah sekali untuk jatuh cinta, tapi susah untuk percaya pada seseorang.

30-12-2013
ketika hati merindu untuk menikah